Kamis, 16 Mei 2013

Gang Adam



Deskripsi Berbagai Kejadian dalam Waktu yang Lama


Gang Adam

Pagi hari yang cerah di Rawa Belong aku berniat untuk mengantarkan keponakanku yang bernama Dibah. Aku mengantarnya menggunakan sepeda. Meskipun dibah terbiasa membawa sepedanya sendiri tetapi pagi ini aku ingin sekali mengantarnya agar aku dapat melihat-lihat Gang Adam di pagi hari. Memang sangat sepi pagi ini yah waktu memang masih pukul 06.00. terdengar suara ayam beberapa kali kukuruyuk dari samping kandang belakang rumah nenek ku. “Ayo Dibah kamu sudah siap kita berangkat sekarang” aku berkata. Sepanjang jalan aku berbincang-bicang dengan Dibah kamu masuk jam berapa? Lalu Dibah berkata “jam setengah tujuh aa”, masih lama kan kita pelan-pelan saja yah goes sepeda nya”. Sepanjang jalan masih terasa nyaman tenang dan asri terlihat kanan kiri pepohonan dan taman-taman halaman rumah yang indah-indah, di gang adam ini sebagian besar halaman rumah-rumahnya di tanami dengan pepohonan yang diberi pot-pot untuk alasnya dari yang kecil sampai pot yang besar-besar memang Rawa Belong terkenal dengan tanaman hiasnya dan pasar bunga Rawa Belong. Mungkin dengan itulah rumah-rumah di sekitar sini sangat asri dan nyaman. Setelah sampai di sekolah Dibah dan Dibah pun langsung berbelok untuk masuk melalui gerbang utama sekolahnya, dan aku pun berhenti di depan gerbang untuk melambaikan tangan kearah Dibah. Terlihat matahari dari balik gedung bertingkat sekolahan Dibah mulai terbit dengan sepenuhnya yang sebelumnya malu-malu untuk keluar. Udara pun terasa panas tetapi tetap segar, hawa pagi begitu terasa di sini. Jalanan yang masih sepi hanya beberapa terlihat hiruk-pikuk para orang tua mengantarkan anak-anaknya untuk ke sekolah. Setelah melihat Dibah masuk ke kelasnya aku pun bergegas untuk pulang tak lama terdengar oleh ku alarm sekolah yang menandakan jam masuk, ternyata sudah jam enam tiga puluh.

Sore hari nya aku dan sepupuku berencana untuk jalan-jalan menggunakan sepeda, tepat pukul empat  kami berangkat dari rumah nenek, yah memang seminggu ini saya sedang berada di rumah nenek tepatnya di Rawa Belong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sore ini sangat cerah terlihat banyak anak-anak bermain layang-layang di jalan-jalan, lapangan sudah tidak ada di sekitar rumah nenek ku jadi jalannan lah tempat bermain anak-anak. Setelah keluar gang kecil lalu aku berbelok menuju jalan utama yah nama jalan itu adalah Gang Adam, terlihat jalanan yang kira-kira lebarnya lima meter, telah ramai oleh para pedagang yang kelihatan dari kejauhan mulai sibuk merapikan kios-kios dagangan nya, meskipun kios-kios mereka sistem bongkar pasang yang menggunakan kayu dan beratapkan terpal tetapi para pedagang itu terlihat sangat cekatan untuk menata kios-kios mereka agar terlihat menarik, memang di setiap hari Jumat malam jalanan di Gang Adam berubah menjadi pasar kaget begitu orang di sekitar sini menyebutnya. 

Aku dan sepupu ku mulai mendekati keramaian para pedagang itu, ini adalah jalan utama dan kami tidak ingin memutar karena terlalu jauh, lantas kami menuruni sepeda dan menuntunnya sambil melihat kanan kiri, yang sangat menarik perhatian ku adalah di tengah-tengah gang itu terdapat bangunan besar bertingkat dan ternyata itu adalah sekolahan SDN 05 Kebon Jeruk di mana Dibah bersekolah. Ternyata ini jalan depan sekolahan Dibah, yang tadi pagi aku berhenti untuk mengantar Dibah. Pagi tadi terlihat sepi dan asri dan sekarang jalan sudah berubah menjadi pasar dan terlihat berantakan kayu-kayu dan dagangan para pedagang yang belum di rapihkan, tampaknya jalanan di Gang Adam ini tidak di sia-siakan dan sangat bermanfaat bagi masyarakat di sekitar sini itulah sepilas pikiran ku, dan setelah melewati sekolahan itu tak sengaja ku dengar seorang ibu berteriak memanggil anaknya, “Adi pulang sudah sore, lihat sudah jam lima cepat pulang mandi. Ayo Adi pulang” seperti itu kiranya ibu itu berteriak-teriak. Aku pun kaget dan terkejut mendengar perkataan ibu itu ternyata sudah semakin sore, pantas saja matahari mulai redup pencahayaannya. Aku pun mengajak sepupuku untuk segera pulang ke rumah nenek. Sesampainya di ujung gang para pedagang berjualan, ada sesuatu yang menarik perhatiaan ku pedagang lampu hias yang menyalakan lampu-lampu dagangannya, meskipun langit belum gelap, kios pedagang lampu itu sangat enak di pandang. Aku pun jadi penasaran untuk kembali lagi ke sini nanti malam. setelah melewati pasar kaget itu , aku dan sepupuku mulai menaiki sepeda lagi, menuju pulang ke rumah nenek.

Malam pun tiba dan aku bersama sepupuku beserta keponakan ku yang berumur tujuh tahun mulai keluar dari rumah nenek dengan berkendara sepeda. Memang letak pasar kaget cukup jauh dari rumah nenek ku karena di tengah jalan utama Gang Adam. Jalanan yang tadi sore terlihat anak-anak bermain layang-layang kini menjadi jalanan yang ramai oleh pejalan kaki dan pengendara sepeda motor tampaknya mereka semua ingin pergi ke pasar kaget itu. Aku beserta saudara ku tidak kalah semangatnya untuk segera pergi ke sana dengan sepeda kami, sesampainya di pasar kaget terdengar suara azan isya, dan kami pun bergegas menuju mesjid terlebih dahulu untuk menunaikan salat isya berjamaah. Yah memang sepanjang Gang Adam ini terdapat beberapa mesjid-mesjid besar, salah satunya di depan pasar kaget ini, selesai salat kami bergegas menuju pasar kaget, baru beberapa langkah keluar dari mesjid mata ku tertuju ke menara mesjid yang mempunyai jam dinding besar yang menunjukan waktu 19:25. Keponakan ku yang bernama Dibah sangat senang sekali melihat keramaian di sini, setelah masuk kedalam kerimunan pasar kaget ini Dibah menunjukan tangannya ke arah bangunan sekolah "aa lihat itu sekolahan Dibah". Aku pun tersenyum dan meledekinya "yahh jalanan depan sekolahan Dibah jadi pasar sekarang, heheheh" kami pun tertawa di dalam keramaian pasar kaget ini, sepupu ku yang bernama Kiki yang tadi sore aku jalan-jalan dengan sepeda bersamanya juga tampak senang berada di keramaian pasar kaget ini, lalu Kiki melihat-lihat kios pakaian aku pun menemani dia membeli pakaian. Memang harga-harga di sini sangat murah dan bisa di tawar. Di sebelah kios baju ada kios boneka yang cukup lengkap, si Dibah pun langsung menarik tangan ku, "aa aku mau beli yang itu" boneka beruang berwarna coklat dia menunjuknya.

Setelah semuanya mendapatkan barang-barang yang diinginkan, aku pun tertarik melihat-lihat kios jam tangan, dan ternyata ada jam besar tergantung di tengah nya yang menunjukan pukul 20:45. Aku pun terkejut dan berbisik sudah hampir jam Sembilan, apa kalian berdua ingin pulang. Mereka bersahutan “yah sudah ayo kita pulang”. Dibah berkata “aa bagaimana dengan aa tidak ada yang ingin di beli” aku pun menggelengkan kepala tidak ada, yang penting aa bisa buat kalian semua senang. Yasudah ayo kita berbalik arah dan pulang, meskipun kami tidak sampai ke ujung Gang Adam ini untuk melihat-lihat kios yang unik-unik, yang penting kami bertiga senang bisa ke pasar kaget di malam yang cerah ini. Malam ini memang terlihat banyak bintang, dan bulan pun sangat cerah menambah ke indahan pasar kaget Gang Adam ini. Setelah sampai di depan mesjid kami pun bergegas mangambil sepeda, yah sepeda memang kami parkir di lapangan parkir mesjid karena tempat itu yang di saran kan nenek untuk menaruh sepeda kami. Kami pun bertiga bergegas untuk pulang dengan goesan sepeda yang pelan-pelan, berbeda sekali dengan berangkat nya yang sangat semangat. Kami semua memang tampak kelelahan di tambah bawaan belanja boneka Dibah yang aku pegang di tangan kiri, sedangkan Kiki membawa belanjaannya sendiri, hanya Dibah lah yang masih semangat “ayo aa cepetan goes sepedanya” Dibah berteriak-teriak. Dengan semangat gadis cilik itulah kami pulang dengan canda senyuman bahagia di malam  sabtu yang indah ini.

Tengah Malam di Warnet Angkasa



Deskripsi dengan pengembangan observasi menurut waktu dan spasi


Tengah Malam di Warnet Angkasa


   Tengah malam aku meninggalkan rumah untuk pergi ke warnet angkasa sepanjang aku berjalan masih terlihat warung yang masih buka dan beberapa gerobak nasi goreng yang masih siap menanti para pembeli, sehingga aku memberanikan diri untuk pergi ke warnet (warung internet) yang melayani para pencinta sosial media, game online, dan dunia maya meski mata tak semangat di siang hari tetapi para pelanggan tetap nyaman dan damai di tempat duduknya masing-masing dengan mata terfokus ke layar komputer meskipun sesekali terlihat lalu lalang untuk sekedar ke toilet atau telah usai bermain dan bergegas pulang. Hanya terdengar suara alunan musik kelasik dan percakapan beberapa anak muda di teras depan warnet angkasa ini, walaupun tengah malam warnet ini tetap di penuhi para pencinta hiburan dunia maya.

   Udara yang menusuk tulang malam hari ini memang tidak begitu terasa di dalam ruangan berbeda sekali pada saat aku keluar dari rumah menuju warnet angkasa ini. Aku pun duduk di bagian pinggir kanan tepat samping pintu masuk utama, yang terlihat selain monitor, keyboard dan mouse, terlihat  juga di atas dinding AC yang diam tak menyala seolah sedang beristirahat, dan di sampingnya terdapat jam dinding berwarna hitam dengan angka-angka putih menunjukan tepat pukul 23:45, udara pun semakin lama semakin mulai terasa masuk ke ruangan terlihat dari ayunan gorden berwarna biru yang melambai-lambai tepat di balakang aku duduk. 

   Entah apa yang harus aku lakukan dan harus memulai dari mana untuk memainkan komputer ini yang terpikirkan hanyalah tugas penulisan populer yang belum aku kerjakan. Sesekali aku menengok kanan dan kiri dan merasakan suasana mulai terasa sepi dan lebih tenang karena hanya beberapa saja yang terlihat masih memainkan komputer nya, sebagian sudah pulang dan mungkin akan tidur karena waktu sudah semakin larut. Aku pun masih tetap bertahan meskipun beberapa kali mata mulai kelelahan, sesekali aku melihat jam di layar komputer dan terkejut waktu sudah menunjukan pukul 1:55, lalu aku pun langsung menengok ke atas dan melihat jam dinding yang semenjak tadi memperhatikanku, ternyata benar waktu sudah pagi dan menunjukan pukul 2:00, hanya berbeda lima menit dari waktu yang terdapat di komputer. 

   Akupun masih semangat untuk memainkan komputer, hingga tak terasa angin mengganggu ku masuk dari belakang membuat tubuh ku kedinginan. Aku pun berbalik dan menutup jendela rapat-rapat. Suara pun menjadi lebih tenang dan sunyi berbeda sekali dengan waktu aku pertama kali masuk ke warnet angkasa ini, alunan musik telah dimatikan menandakan waktu sudah larut dan ke bisinganpun mulai dialihkan dengan ke sunyian. Anak-anak muda pun yang tadi berbincang di teras depan sudah tidak ada hanya terlihat puntung rokok dan kulit kacang yang berserakan,  Aku merasa seperti sendirian karena sudah tidak terdengar lagi adanya kehidupan, lalu aku mulai merasa gelisa dan melihat jam kembali ternyata jarum pendek jam dinding menunjukan setengah tiga, tampaknya ini waktu yang tepat untuk mensudahi kumputer yang aku mainkan ini. Lalu aku bergegas untuk ke kasir dan membayar.


   Dan ternyata suasana pun sepi seperti perumahan yang tidak berpenghuni sudah tidak terlihat lagi adanya kehidupan, berbeda sekali seperti tadi aku berangkat masih terlihat warung yang buka, dan beberapa tukang nasi goreng yang mangkal. Aku berjalan dan jalanku mulai aku percepat walaupun sesekali aku jumpai binatang malam yaitu tikus hitam yang berlalu lalang di jalanan mungkin mereka seperti menyambut ku dan berkata selamat beristirahat.