Rabu, 04 September 2013



Warung Kehidupan
(oleh Friyansyah)


   Hari Rabu 10 Juli 2013. Terjadi kebakaran hebat di kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Api muncul berawal dari warung kecil pinggir jalan dan mulai membesar menyambar rumah warga, yang berada tepat di belakang warung tersebut. Dilaporkan korban jiwa yang meninggal dua orang yaitu seorang ibu dan anak laki-lakinya, dan delapan orang luka-luka diantara orang dewasa ada juga anak-anak. Mereka para korban langsung dievakuasi ke tempat-tempat aman, yaitu mesjid dan rumah warga yang terhindar dari kobaran api. Dilaporkan juga sepuluh rumah dan satu warung kecil terbakar habis. Kerugiaan pun tercatat hampir satu miliar rupiah. Kebakaran memang sering terjadi di Tambora, karena Tambora merupakan kawasan padat penduduk dan hampir setiap tahunnya terjadi kasus kebakaran. Dan kali ini merupakan yang terbesar di Tambora selama tiga tahun belakangan ini.
       

   Pagi pun tiba dengan cahaya mentari beserta harapan kebahagiaan, hidup di Jakarta yang selalu membayangi Surti. Dengan niat yang kuat akhirnya Surti berencana ingin menjual sapi dan ayam-ayamnya di pasar untuk modal hidup di Jakarta, karena Surti sangat ingin kedua anaknya bersekolah dan baginya Jakarta merupakan tempat dimana banyak sekolah yang baik. Di desa tempat tinggal mereka, sekolah sangatlah jauh mereka harus pergi ke kota terlebih dahulu dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, untuk itulah Surti ingin sekali pergi meninggalkan desanya agar mendapatkan hidup yang lebih baik.

   Setelah pulang dari pasar, Surti menemui saudara-saudara dan orang tuanya untuk meminta izin pergi ke kota Jakarta. Setelah mendapatkan izin dari semua-saudara dan orangtuanya. Surti pun semakin yakin untuk mendapatkan hidup yang lebih baik di Jakarta. Malam harinya mereka menyiapkan pakaiaan dan barang-barang yang dibutuhkan di Jakarta. Ali pun bertanya “Kita ke Jakarta ingin tinggal dengan ayah yah bu?” Surti pun hanya diam dan tersenyum, Ali pun bergembira dan memberitahu adiknya “Alan kita ingin bertemu dengan ayah,” “Asik-asik-asik bertemu ayah.” Mereka berdua sangat bergembira. Sebenarnya Surti sangatlah sedih karena pertanyaan itu yang hampir ditanyakan oleh semua orang di desanya. Sebenarnya Joko suami Surti telah meninggalkan mereka hampir lima tahun, di saat anak-anaknya masih berumur satu tahun. Joko memang berniat untuk mencari pekerjaan di Jakarta tetapi sampai saat ini dia pun tidak kunjung kembali, bahkan tidak pernah memberi kabar. Surti pun merasa kecewa dan dia berjanji untuk membesarkan anak-anaknya sendiri. Sekarang Ali dan Alan berumur enam tahun, mereka kembar untuk itulah Surti harus memperlakukan mereka secara adil sejak dari kecil.

   Metahari pun telah terbit di desa yang sejuk indah dan damai itu. Surti dan kedua anaknya bergegas untuk pergi dan mereka sesekali mengucapkan selamat tinggal kepada desanya. Setelah sampai di kota Jakarta Surti dan kedua anaknya terkagum-kagum melihat banyak sekali gedung yang tinggi dan besar-besar. Langsung saja dia dan anak-anaknya menuju alamat yang diberikan oleh kakanya itu, yaitu alamat penjual warung kecil pinggir jalan. Dengan memegang uang hasil penjualan sapi dan beberapa ayamnya, Surti pun membeli warung kecil tersebut, dan warung Surti ditempatkan di daerah Jakarta Barat tepatnya di kecamatan Tambora. 

   Surti pun senang karena dapat memiliki warung yang dapat menghidupinya di Jakarta. Walaupun warungnya kecil, Surti tetap memaksimalkan penjualaanya dengan berjualan berbagai macam kebutuhan warga sekitar dan para pengguna jalan, mulai dari jajanan anak-anak, rokok, berbagai minuman, kebutuhan rumah tangga, berbagai jenis mie instan, gorengan dan lain-lain. Setelah warungnya banyak yang membeli, Surti pun langsung menyediakan tempat duduk dan membuat dapur kecil di belakang warungnya, dan mulai saat itulah warung bu Surti melayani 24 jam, nama bu Surti menjadi nama warungnya yang mulai di kenal oleh warga sekitar. Dia tinggal menetap di warungnya tersebut, walaupun sempit dan harus berbagi tempat beristirahat bersama anak-anaknya tetap saja itu merupakan kebahagiaan bersama menurut Surti.

   Warungnya pun mulai banyak pelanggan dan menjadi tempat para tukang ojek menunggu penumpang, bu Surti pun senang karena tempat berjualannya sudah banyak yang mengenalnya. Kebahagiaan itu pun datang lagi setelah kedua anak bu Surti, Ali dan Alan masuk SD negeri disalah satu sekolah Jakarta Barat tempat mereka tinggal, karena Ali dan Alan merupakan anak yang pintar dan cepat memahami sesuatu dengan begitu Ali dan Alan mendapatkan pendidikan SD geratis di SD negeri tersebut. Bu Surti tinggal di lingkungan yang kurang baik dan tidak sehat karena wilayah tersebut merupakan permukiman padat penduduk, tetapi pemerintah Jakarta tetap memperhatikan pendidikan anak-anak di wilayah Tambora tersebut.

   Dua tahun bu Surti hidup di warung kecilnya bersama kedua anak kembarnya dan pertanyaan yang selalu di ulang-ulang anaknya yaitu “Kemana ayah, bu ? kenapa kita harus menjaga warung terus, bukankah kita lebih baik tinggal bersama ayah.” Itulah pertanyaan Ali yang selalu membuat Surti merasa sedih, tapi dari setiap pertanyaan tentang ayah, Surti hanya diam dan tersenyum saja. Keadaan pun mulai tidak membaik setelah anak nya Alan terkena penyakit kulit yaitu Eksim, kulit Alan menjadi gatal-gatal dan banyak luka, “Mungkin air tidak bersih dan lingkungan yang kotorlah menjadi penyebabnya,” kata seorang pembeli yang melihat kondisi Alan, “Di daerah sini hampir semua anak-anaknya mengalami penyakit kulit seperti itu,” kata salah satu tukang ojek berambut panjang. Dan sebagian lagi menyahutinya “Segeralah bawa ke rumah sakit kalau tidak akan semakin parah.” Bu Surti pun menjadi ketakutan mungkin apa yang di katakan para tukang ojek itu ada benarnya. Surti pun merasa bersalah kepada anak-anaknya karena tidak mampu memberikan yang terbaik untuk mereka.

   Seperti malam-malam biasanya di warung bu Surti selalu ada yang menjaga, biasanya para tukang ojek yang bermain catur atau kartu. Mereka pun sudah terbiasa untuk memesan dan melayani sendiri, sedangkan bu Surti beristirahat di dalam warungnya bersama kedua anaknya. Tetapi malam ini belum terlihat para tukang ojek di warungnya, Surti pun mau tidak mau harus menjaga warungnya seorang diri. Walaupun Surti suka menjaga warungnya sendirian, itu pun pada saat hujan dan setelah larut malam warungnya akan ditutup. 

   Tetapi kali ini tidak hujan dan Surti harus terus membuka warungnya untuk menambah biaya anaknya Alan ke rumah sakit. Tepat pukul sebelas malam para tukang ojek pun datang dan memesan kopi. Karena air panas yang biasa tersedia di termos untuk membuat kopi habis, bu Surti pun langsung menuju dapur dan menyalakan kompor gas untuk memasak air. Setelah dilihat api sudah menyala dan tinggal menunggu air nya mendidih, bu Surti pun kembali ke luar dan berbincang-bincang dengan para tukang ojek yang baru berdatangan. Tetapi tiba-tiba terlihat kobaran api yang membesar dari luar warung bu Surti dan ternyata api tersebut mengenai pakaian yang tergantung di atasnya. Bu Surti pun panik dan berteriak meminta tolong dan para tukang ojek yang saat itu ada tiga orang segera membantu memadamkan api, tetapi api semakin membesar dan sudah membakar atap lalu menyembar ke seluruh bagian warung. Ali dan Alan dibangunkan oleh salah satu tukang ojek tersebut dan bergegas dibawa ke luar ke tempat yang aman. Warga pun terbangun dan keluar membantu memadamkan api dengan air seadanya. Peristiwa buruk pun menimpah keluarga kecil dan warga Tambora malam itu. 

   Warung bu Surti pun terbakar habis dengan cepat, itu semua diduga karena kompor gas yang menyala mengenai pakaian yang ada di atasnya. Api pun semakin membesar membakar semua bagian warung dan menyambar ke bagian belakang dimana terdapat rumah-rumah penduduk, dengan cepatnya api membakar rumah-rumah tersebut. Petugas kebakaran datang satu jam kemudian dengan lima mobil pemadam kebakaran. Namun sudah terlambat menyelamatkan warung bu Surti. Tetapi api kemudian dapan dipadamkan dan beruntungnya Surti dan kedua anaknya tidak terluka dan mereka selamat.

Sabtu, 15 Juni 2013




Tampe Ruma Sani

Oleh : Friyansyah
Hutan, Ibu Tiri, Jahat, Keluarga, Nusa Tenggara Barat, Pangeran
cerita ini berasal dari Dompu, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat.

Alkisah pada zaman dulu, tinggallah seorang anak perempuan bernama Tampe Ruma Sani. Semua orang di kampungnya mengenal dia, sebab setiap hari ia menjajakan ikan hasil tangkapan ayahnya. Ibunya sudah meninggal. Di rumahnya ia tinggal bersama ayah dan adik laki-lakinya yang masih kecil. Ia memasak nasi untuk ayah dan adiknya. Kasihan Tampe Ruma Sani yang masih kecil itu harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa.

Pada suatu hari, seorang janda menyapa Tampe Ruma Sani, “Sudah habis ikanmu Nak ? Tiap hari saya lihat ikanmu cepat habis, apa rahasianya?”

“Saya menjual lebih murah dari yang lain, agar cepat habis, karena saya harus segera pulang menanak nasi untuk ayah dan adik saya. Juga pekerjaan rumah tangga yang lain harus saya kerjakan”, jawab Tampe Ruma Sani sambil berjalan cepat.

“Siapa nama adikmu?”
“Mahama Laga Ligo”, jawab Tampe Ruma Sani. “Mengapa bukan adikmu yang memasak?”
“Adikku masih kecil, belum bias memasak. “Bermacam-macam pertanyaan janda itu kepada Tampe Ruma Sani.

“Sampaikan salamku kepada ayahmu! Aku mau membantu kalian dan tinggal di rumah ayahmu. Aku mau membuat tembe (sarung), sambolo (destar) dan ro sarowa (celana) untuk ayahmu”, kata janda itu dengan manis.
“Baik Bu, akan saya sampaikan kepada ayah. “Singkat cerita janda itu kini telah kawin dengan ayah mereka, dan menjadi ibu tirinya.

Kini Tampe Ruma Sani tidak lagi memasak. Pekerjaannya hanya menjajakan ikan saja. Sekali-sekali ikut menumbuk padi, ibunya selalu berpesan agar beras yang utuh dipisahkan dengan yang hancur. Pada mulanya, ibu tirinya sangat baik kepada Tampe Ruma Sani dan adiknya. Namun, lama-kelamaan sikapnya berubah. Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo mendapat perlakuan yang kurang baik, lebih-lebih kalau ayahnya tidak berada di rumah.
Pada suatu hari, ayahnya baru pulang menangkap ikan. Sang ibu tiri segera menyiapkan makanan yang enak-enak untuknya. Sedang untuk anak tirinya disediakan nasi menir (nasi dari beras yang hancur kecil-kecil). Melihat hal itu, Tampe Ruma Sani memberanikan diri lapor kepada ayahnya, “Ayah dan ibu makan nasi yang bagus dan ikannya yang enak-enak, sedang saya dan adik nasinya kecil-kecil dan tidak ada ikannya”. Mendengar hal itu ayahnya bertanya,

 “Mengapa  makanan anak-anak berbeda dengan makanan kita Bu?”
“Oo tidak Pa, sebenarnya sama saja, lihatlah sisa makanan yang ada di kepala Mahama Laga Ligo,” jawab istrinya.

Sebenarnya nasi yang ada di kepala Mahama Laga Ligo sengaja ditaruh oleh ibu tirinya menjelang ayahnya datang. Hal yang demikian telah dilakukan berkali-kali. Ibunya sangat marah kepada Tampe Ruma Sani yang berani melaporkan kepada ayahnya. Setelah suaminya pergi, sang ibu tiri menghajar Tampe Ruma Sani sampai babak belur. Tampe Ruma Sani menangis sejadi-jadinya. Melihat kakanya dihajar, Mahama Laga Ligo pun ikut menangis.

“Kalau kalian berani melapor kepada ayahmu akan kubunuh kalian!” ancamannya.

Perlakuan kasar telah biasa diterima oleh kedua anak itu. Mereka tidak berani melaporkan kejadian itu kepada ayahnya, karena takut ancaman ibu tirinya.

Kini kedua anak itu sudah besar dan menginjak dewasa. Kakak beradik itu bermaksud pergi meninggalkan orang tuanya untuk mencari nafkah sendiri, karena tidak tahan lagi menerima siksaan ibu tirinya. Maksud itu pun disampaikan kepada ayahnya, 
“Ayah, kami sekarang sudah besar, ingin mencari pengalaman. Oleh karena itu, izinkanlah saya dan Mahama Laga Ligo pergi”.
“Mengapa engkau mau meninggalkan rumah ini? Tetaplah di sini. Rumah ini nanti akan sepi, “kata ayahnya. Ibu tirinya segera menyaut, “Benar kata Tampe Ruma Sani. Dia kini sudah besar. Bersama adiknya tentu ingin mandiri. Maka sebaiknya ayah mengizinkan mereka pergi,”Ibu tirinya memang sudah tidak senang dengan anak-anak tirinya yang dirasa sangat mengganggu.

Akhirnya, ayahnya pun dengan berat mengizinkan, bekat desakan istrinya yang terus-menerus.
Pagi hari sesudah sholat subuh, kedua anak itu meninggalkan rumahnya. Ibu tirinya member bekal nasi dalam bungkusan. Ayahnya mengantarkan sampai ke batas desa.

Alkisah, kedua anak itu berjalan menyusuri hutan dan sungai. Sesekali mereka membicarakan ibu tirinya yang kejam. Sesekali juga membicarakan ayahnya yang kena pengaruh ibu tirinya setelah seharian berjalan, Mahama Laga Ligo merasa lelah.

“Kak, saya capai dan lapar. Istirahat dulu ya Kak”, katanya dengan nada menghimbau.
“Bolehlah. Kita cari dulu tempat yang teduh, lalu kita makan bekal yang diberikan ibu tadi, “kata kakaknya. Ketika mau duduk dekat adiknya yang mulai membuka bekalnya, tercium bau kotoran.
“Pidah dulu, di sekitar sini ada kotoran, kata Tampe Ruma Sani, sambil mengamati di mana kotoran itu berada. Namun, di sekitar tempat itu bersih. Lalu ia duduk lagi dan meneruskan membuka bekal yang dipegang adiknya. Ketika bekal itu dibuka bau itu tercium lebih keras. Akihirnya, tahulah sumber bau itu. Bau itu ternyata berasal dari bekal yang dibawanya. Rupanya ibu tirinya sangat jahat, sehingga sampai hati member bekal yang dicampuri kotoran manusia. Lalu, bungkusan itu pun dibuang, dengan perasaan marah dan sedih.

Dengan mengikat perutnya kencang-kencang, kedua kakak beradik itu pun melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama berjalan, dilihatnya sebuah rumah di tengah hutan. Kedua anak itu merasa senang. Segeralah keduanya menaiki tangga dan mengetuk pintu. Namun, setelah beberapa saat tidak terdengar jawaban. Diketuknya sekali lagi, tetap tiada jawaban. Lalu, keduanya mendorong pintu rumah itu sedikit demi sedikit. Ternyata pintu rumah itu tidak dikunci. Dengan perlahan-lahan, ia memeriksa seluruh penjuru rumah, ternyata rumah itu tidak ada penghuninya. Di sekitar rumah ditumbuhi rumput yang tinggi, yang tampak tidak pernah dijamah manusia maupun binatang.

“Mari kita duduk di dalam rumah menunggu pemiliknya”kata Tampe Ruma Sani kepada adiknya.
Mereka duduk-duduk. Tak berapa lama, karena kecapaian, mereka tertidur. Pada saat terbangun telah pagi. Penghuni rumah itu belum juga muncul.

Untuk mencari tahu apakah di sekitar sini ada rumah yang lain Mahama Laga Ligo keluar rumah untuk melihat-lihat di sekeliling wilayah ini, lalu Mahama Laga Ligo memberi saran kepada kakak nya. “Kakak Sementara saya pergi, kakak di dalam rumah saja. Kalau ada orang datang, jangan sekali-sekali kakak membukakan pintu”.
“Baiklah, pergilah, tetapi jangan lama-lama”, jawab kakanya.
Setelah adik nya meninggalkan rumah, Tampe Ruma Sani bergegas menutup semua jendela dan mengunci pintu dari dalam. Dan tanpa di sengaja Tampe Ruma Sani melihat ada foto yang sudah tidak jelas lagi karena sudah tertutup oleh debu dan sarang laba-laba, Tampe Ruma Sani pun langsung membersikan dengan kain, foto tersebut. Ternyata foto itu adalah foto keluarga dimana ada seorang ayah, ibu dan tiga orang anak diantaranya dua laki-laki dan satu perempuan. Tampe Ruma Sani pun terkejut dan memandang terus foto itu, tidak lama kemudian adiknya datang dan mengetuk pintu, kakak “aku sudah pulang”, teriakan Mahama Laga Ligo. Tampe Ruma Sani pun langsung membukakan pintu dan langsung menarik adiknya yang baru saja pulang dari pasar, “Lihat apa yang kakak temukan di rumah ini ? kakak menemukan foto keluarga yang menurut kakak ini adalah pemilik rumah yang kita tempati sekarang”, Mahama Laga Ligo pun terkejut dan memperhatikan foto tersebut terus-menerus.

Menjelang sore hari mereka ingin membersikan rumah yang di tempatinya agar terlihat nyaman dan rapi, mereka berdua pun berbagi tugas Tampe Ruma Sani membersihkan pekarangan sedangkan Mahama Laga Ligo membersihkan ruangan dalam rumah. Tidak lama kemudian Tampe Ruma Sani melihat ada seorang laki-laki bertubuh kekar dan membawa panah di tangan kirinya dan seekor burung di tangan kanannya.
Tampe Ruma Sani pun memanggil orang itu, “siapa kamu di sana”, teriakannya dengan kencang, laki-laki itu langsung berbalik arah dan menghampiri Tampe Ruma Sani, laki-laki itu berkata “sedang apa kamu di rumah ini”. Tampe Ruma Sani pun menjelaskan “Aku dan adik ku sedang dalam perjalanan, tanpa disengaja kami berdua melihat rumah ini dan tidak tahu siapa pemiliknya dan akhirnya kami tempati ”. Laki-laki itu berkata “mana adik mu?”, Tampe Ruma Sani pun memanggil adiknya, dan si laki-laki itu pun memperkenalkan dirinya perkenalkan nama ku Laska, dan Tampe Ruma Sani pun bersalaman dan memperkenalkan dirinya dan adik nya. Mahama Laga Ligo pun berbisik ke kakanya “Kakak aku lapar belum makan dari kemarin” Laki-laki itu pun memberi hasil buruannya kepada Tampe Ruma Sani dan beberapa buah-buahan dari dalam kantong celananya “ini untuk mu nak” ucap laki-laki itu memberikan beberapa buah jambu kepada Mahama Laga Ligo dan kepada Tampe Ruma Sani mereka memaknnya dengan lahap. Lalu Laska pun menjelaskan bahwa ini adalah rumah keluarganya yang sudah di tinggalkan 10 tahun yang lalu. Ibu dan ayahnya meninggal di bunuh oleh para hulubalang kerajaan ujarnya.

Tampe Ruma Sani pun langsung bertanya “berarti kamu adalah laki-laki yang ada di dalam foto rumah ini”. Laska pun langsung menjelaskannya lagi,”iya benar itu saya kami tiga bersaudara di rumah ini, saya adalah anak pertama sedangkan adik laki-laki saya bernama Samka dan adik perempuan saya yang paling kecil bernama Lenka. Kami dari keluarga Dompu pemilik hutan ini, ayah saya lah yang selalu membanggakan keturunan Dompu adalah pemilik hutan ini begitu lah ucapan beliau yang selalu di lontarkan apabila bertemu orang asing. 10 tahun yang lalu di kawasan ini terdapat beberapa rumah dari keturunan keluarga Dompu, tetapi hanya tinggal rumah saya saja yang masih tersisah karena tidak bisa di hancurkan oleh para hulubalang kerajaan yang kejam itu.

Tampe Ruma Sani pun memperhatikan pembicaraan tersebut dengan kagum dan simpati terhadap Laska. Dan Mahama Laga Ligo pun bertanya “kemana adik-adik kakak yang lainnya?”, Laska pun menjawab dengan sedih “mereka semua tertangkap oleh para hulubalang dan di tahan di dalam penjara bawah tanah kerajaan”.

Matahari pun telah hampir terbenam dan perbincangan tersebut di akhiri dan Laska pun meninggalkan tempat itu dan memberi himbawan kepada Tampe Ruma Sani. “Pada saat malam nanti jangan kalian melakukan aktifitas tidurlah sampai pagi dengan begitu kalian akan aman di rumah ini”, Tampe Ruma Sani pun mendengarkan ucapan Laska tersebut. Laska pun melambaikan tangan dan berkata ”tetaplah kalian tinggal di sini kita akan bertemu lagi”.

Keesokan harinya tepat 2 hari mereka tinggal di rumah itu. Laska pun kembali ke rumah itu dan ingin bertemu Tampe Ruma Sani, dan mereka pun berbicara banyak tentang keluarga masing-masing bagaimana Tampe Ruma Sani yang mendapatkan perlakuan yang kejam dari ibu tirinya sampai ia pergi dari rumah, lalu kisah pembunuhan keluarga yang Laska alami yang membuat sedih Tampe Ruma Sani. Mereka berdua pun saling jatuh cinta. Cinta mereka belum diketahui oleh Mahama Laga Ligo.
Mereka bahagia tinggal di rumah itu karena mereka dapat pengalaman yang baru hidup di hutan dan berburuh seperti yang di lakukan oleh Laska, kedekatan mereka lama-kelamaan akhirnya di ketahui oleh Mahama Laga Ligo. Dan Mahama Laga Ligo pun bertanya kepada Laska,” apakah kamu suka sama kakak saya?”. Laska pun menjawab dengan lantang “yah saya jatuh cinta dengan kakak kamu”. Mahama Laga Ligo pun tersenyum dan berkata. “Hebat sekali ini adalah awal kehidupan baru kami”
Di rumah itu mereka hidup dengan memakan hasil buruhan dan buah-buahan dari hutan, mereka pun meminum air sungai yang tidak jauh dari rumah itu.

Setelah beberapa waktu yang cukup lama Mahama Laga Ligo sudah terampil berburuh dia sudah tahu cara-cara memanah burung dan membuat jebakan untuk rusa atau babi liar, berkat ajaran dari Laska.

Pada saat berburuh di pagi hari Laska dengan Mahama Laga Ligo tetapi pagi itu Tampe Ruma Sani tidak ikut berburuh karena mengalami luka ringan akibat tergores bambu waktu berburuh kemarin. Jadi Tampe Ruma Sani pun hanya berdiam diri  di dalam rumah sambil mendoakan agar tangkapan mereka berhasil kali ini, karena beberapa hari terakhir ini mereka tidak mendapatkan hewan buruhan yang di dapat hanya buah-buahan hutan.

Tidak lama kemudian terdengar suara beberapa orang dari dalam rumah. Tampe Ruma Sani pun langsung bersembunyi dengan ketakutan karena di lihatnya dari jendela orang-orang itu membawa tombak, dan pakaian prajurit. Tampe Ruma Sani pun berpendapat bahwa orang-orang itu adalah para hulubalang kerajaan yang telah membunuh orang tua Laska. Para hulubalang itu pun berpencar di sekeliling rumah dan ada pula yang mendobrak pintu agar dapat masuk. Semua ruangan di periksa.

Dari kejauhan Laska melihat ada kerumunan orang yang memasuki bekas rumahnya itu yang sekarang di tinggali oleh Tampe Ruma Sani. Dengan rasa penasaran Laska pun mendekat dengan hati-hati bersama Mahama Laga Ligo, lalu Mahama Laga Ligo pun berbisik “mari kita bunuh para hulubalang itu dan kita selamatkan kakak saya”. Laska pun berfikir dengan cepat. Memberi perintah kepada Mahama Laga Ligo, “dengarkan saya kamu bersembunyi di rerumputan di samping rumah dan apabila ada dari mereka keluar langsung kamu panah bagaimana kamu siap !, sedangkan saya akan menjadi umpan agar mereka mengejar saya. Apa kamu mengerti”. Mahama Laga Ligo pun bersipa diri dan berkata “aku siap demi keselamatan kakak ku”

Tak lama kemudian Laska berdiri dan membuat teriakan mengejek, lalu para hulubalang pun mengejarnya, dan beberapa dari mereka terjebak perangkap rusa, babi dan sesekali Laska memanah mereka dengan tepat di bagian perutnya. Laska memang penguasa hutan yang sesungguhnya dia lebih tahu perangkap-perangkap yang telah di siapkannya untuk hewan ataupun untuk orang-orang jahat yang masuk ke hutan nenek moyang keluarga Dompu.

Sedangkan di dalam rumah, Tampe Ruma Sani tertangkap oleh para hulubalang yang tidak mengejar Laska. Mahama Laga Ligo pun bersiap dengan posisi memanah apabila ada yang keluar dari pintu depan. Karena Mahama Laga Ligo bersembunyi di samping rumah yang terdapat rerumputan. Tak lama kemudian keluar dua orang hulubalang yang menyeret Tampe Ruma Sani, dengan teriakan meminta tolong Tampe Ruma Sani, membuat Mahama Laga Ligo adik nya merasa marah dan ingin membunuh kedua orang tersebut. Lalu salah satu dari hulubalang di panah oleh Mahama Laga Ligo tepat di bagian punggung belakang menembus ke perut. Lalu hulubalang yang menyeret Tampe Ruma Sani pun kaget melihat temannya terbunuh dan melepaskan pegangan tangan Tampe Ruma Sani. Tanpa memperhatikan Tampe Ruma Sani hulubalang itu langsung di pukul dengan kayu yang terdapat di depan pintu oleh Tampe Ruma Sani. Lalu Mahama Laga Ligo menghampiri dan membunuhnya dengan memanahnya hulubalang yang di pukul oleh Tampe Ruma Sani tersebut.

Tampe Ruma Sani pun bangga melihat adiknya telah menjadi pahlawan dan dapat membela kakaknya. Tidak lama kemudian Laska pun datang dan Mahama Laga Ligo pun berteriak, “Itu dia pahlawan yang sesungguhnya kakak”. Tampe Ruma Sani langsung menghampiri Laska dan memeluknya.
Laska pun langsung mengambil perintah kepada Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo untuk menguburkan para mayat hulubalang yang jahat itu.
Sedangkan Laska ingin memasang perangkap lagi di beberapa lokasi, karena Laska tahu bagaimana sikap raja apabila tahu peristiwa ini, pasti sang raja akan menghabisi kita semua ujar Laska kepada Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo.

Akhirnya peristiwa ini pun terdengar sampai kerajaan bahwa pasukan hulubalang kerajaan telah di bunuh oleh para anak muda. Dan raja pun marah dan ingin mengetahui siapa pembunuhnya.
Untuk beberapa hari kedepan rumah yang biasanya di tempati oleh Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo kini telah di penuhi oleh jebakan yang di buat Laska untuk menjebak para hulubalang kerajaan yang akan datang lagi. Sementara itu Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo pun tinggal bersama Laska di rumah pohon yang di buat oleh Laska. Mereka pun berjaga-jaga dengan panah di atas rumah pohon itu. Setelah beberapa hari pasukan hulubalang kerajaan datang lagi kerumah hutan itu. Dan beberapa dari mereka telah terjebak dan terbunuh karena ingin memasuki rumah tersebut. Dengan cepat Laska mengambil posisi untuk memanah mereka dari atas pohon bersamaan dengan Mahama Laga Ligo dan Tampe Ruma Sani yang walaupun belum sehebat adiknya dan Laska, Tampe Ruma Sani pun tidak ingin diam saja dia juga ikut memanah. Satu persatu pasukan hulubalang kerajaan terbunuh lagi Laska menang lagi dan dapat menghalau para hulubalang masuk kehutannya. Tampe Ruma Sani pun merasa kagum akan kehebatan dan kecerdikan yang di miliki Laska, Tampe Ruma Sani pun semakin jatuh cinta kepada Laska.

Akhirnya pasukan hulubalang kerajaan pun pergi sebagian, karena sebagian dari mereka telah terbunuh.
Raja pun marah mendengar apa yang di katakana para hulubalangnya dengan jebakan-jebakan dan panah-panah yang dapat membunuh para hulubalang kerajaan tersebut yang di lakukan oleh salah satu keturunan keluarga Dompu. Dan raja berinisiatif membawa keturunan dari keluarga Dompu, yang telah di penjara selama kurang lebih 10 tahun untuk keluar dan di bawa sebagai sandera ke hutan di mana rumah keluarga Dompu itu berada.

Tepat esok harinya. Dua sandera di bawa oleh hulubalang kerajaan dengan raja di depan sebagai pemimpin memasuki hutan dan sesampainya para hulubalang dan raja di tengah hutan di mana rumah keluarga Dompu itu berada. Sandera di lepaskan dan di cambuk oleh raja. Dengan berteriak- teriak dua sandear itu menangis kesakitan. Tak lama kemudian Laska turun dari atas pohon tempat dia memata-matai para hulubalang. Dan berteriak “Samka, Lenka, ini aku kakak mu Laska” Lalu Samka dengan badan yang kurus dan wajah yang kusam berbicara dengan nada lemas “Kakak tolong selamatkan kami dari Raja yang kejam ini”, sementara Lenka telah tak berdaya terbaring kesakitan di cambuk oleh sang raja.

Raja pun berkata “dua orang ini aku kira adalah keturunan terakhir keluarga Dompu, Ohh ternyata masih ada yang tersisah dan berkeliaran di hutan ku selama ini, sungguh karena aku tidak sudih bahwa ada keturunan Dompu di wilayah kerajaan ku, walaupun kalian tinggal di hutan tetap saja kalian pembawa bencaana di kerajaan ku”. ucap sang raja dengan lantangnya.

Pembicaraan itu membuat hati Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo pun turun dari persembunyiannya di atas pohon, Raja pun terkejut dan berkata, “siapa mereka”. Tampe Ruma Sani pun memperkenalkan dirinya, “saya Tampe Ruma Sani dan ini adik saya Mahama Laga Ligo” kami berdua dari daerah utara hutan ini kami sedang melakukan perjalanan dan tanpa sengaja menemukan rumah di tengah hutan ini maka dengan begitu kami singgahi rumah ini” saya mohon bebaskan kedua orang tidak berdaya itu, dan apa mau mu sang raja yang agung dari kami ini” ucap Tampe Ruma Sani dengan nada memohon.

Sang raja pun terdiam dan memikirkan tawaran yang di berikan Tampe Ruma Sani. Sang raja lalu berkata “  baiklah saya lepaskan dua orang ini tetapi saya menginginkan kepala dari laki-laki perkasa itu”. Tampe Ruma Sani pun terkejut dan menengok ke arah Laska dan berkata “ ini tidak adil sama saja kalian membenuh keturunan keluarga Dompu lagi, sudah berapa keluarga yang kalian bunuh untuk mempercayai mitos kerajaan ini, bisa kah kita hidup berdampingan wahai sang raja yang agung”. Raja pun masih terus mencambuk Samka dan Lenka dan terus bersikeras ingin membunuh Laska. Laska pun berbicara “baiklah saya siap engkau bunuh dan engakau ambil kepala ku”. Tampe Ruma Sani pun sedih mendengarnya dan mencucurkan air mata. Dan memeluk Laska. Keharuan membaluti hutan tersebut.

Setelah semua selesai disiapkan oleh para hulubalang tempat pemenggalan (pemotongan kepala). Sang raja pun bersiap dengan pedang nya untuk memotong kepala Laska. Teriakan pun dan airmata bercucuran di pipi Tampe Ruma Sani, sedangkan Mahama Laga Ligo pun menangis dan membalikan kepalanya karena tidak berani untuk melihatnya.

Akhirnya sang raja memulai ancang-ancangnya dan siap memotong kepala Laska dan pada saat bersamaan Laska pun mengambil busur yang ada di pinggangnya dan menancapkan ke perut sang raja terlebih dahulu. Para hulubalang pun terkejut dan ketakutan melihat bahwa rajanya terbunuh terlebih dahulu oleh Laska. Dan pada saat itu Tampe Ruma Sani langsung membebaskan Laska dari ikatan. Laska pun langsung melawan para hulubalang dan sebagian lagi lari ketakutan karena melihat rajanya telah terbunuh. Mahama Laga Ligo pun langsung memanah tepat ke arah hulubalang yang berlarian.

Akhirnya mereka semua pun selamat dan mayat sang raja di kuburkan tepat di depan bawah rumah peninggalan keluarga Dompu tersebut.

Setelah beberapa minggu peristiwa perlawanan terhadap sang raja. Samka dan Lenka telah cukup pulih meskipun luka cambuk nya masi berbekas di sekujur tubuhnya tetapi mereka sudah dapat berjalan dan berbicara. Tidak terasa Tampe Rumah Sani telah lama meninggalkan rumah orang tuanya.
Dan pada suatu saat Tampe Ruma Sani ingin membicarakan atas hubungannya dengan Laska dan ingin agar Laska menikahinya. Lalu Laska pun menyetujui apa permintaan dari Tampe Ruma Sani dan permintaan Tampe Ruma Sani adalah agar Laska dapat menikahinya di rumah orang tua Tampe Ruma Sani. Laska pun dengan senang hati siap untuk tinggal di daerah yang berbeda di desa tempat rumah orang tua Tampe Ruma Sani tinggal.
Dan mereka pun akhirnya pindah dari hutan ke desa, yaitu ke desa tempat tinggal Tampe Ruma Sani. Samka dan Lenka pun ikut dalam perjalanan menuju rumah barunya itu.
Setelah sampai di desa warga desapun terheran atas kedatangan Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo dan ketiga orang asing yang di bawanya. Mahama Laga Ligo lalu memperkenalkan kepada warga desa bahwa mereka adalah keturunan Dompu di tengah hutan sana.

Setelah sampai di rumah Tampe Ruma Sani ayahnya pun langsung memeluk Tampe Ruma Sani dan Mahama Laga Ligo. Ayahnya pun meminta maff dan menangis kepada kedua anaknya  maff “bahwa selama ini ayah telah salah memilih ibu baru untuk kalian. Sehinggah kalian ingin merasa pergi dari rumah”. Lalu Tampe Ruma Sani bingung “bagaimana ayah tahu atas kejadiaan itu kami ini bukan ingin mencari pekerjaan tetapi tidak tahan tinggal bersama ibu tiri”. “ Yah ayah tahu karena ayah bertengkar keras seminggu setelah kalian pergi dan dia membicarakan kalian, kenapa kalian pergi”. Lalu pada saat itu pula ayah menceraikan. Dan ayah terus mencari kalian setelah perceraian itu. “Maffkan ayah jangan tinggalkan ayah lagi yah anak-anak ku”. lalu Tampe Ruma Sani pun berbisik ke telinga ayahnya, “ayah lihat siapa yang aku bawa dia adalah pangeran ku calaon pendamping hidup ku aku ingin menikah dengannya namanya Laska dari keturunan keluarga Dompu. Ayahnya tersenyum melihatnya dan langsung memeluk Laska.

Ke esokannya Tampe Ruma Sani menikah dengan Laska dan mereka hidup bahagia. Selesai 


Kamis, 16 Mei 2013

Gang Adam



Deskripsi Berbagai Kejadian dalam Waktu yang Lama


Gang Adam

Pagi hari yang cerah di Rawa Belong aku berniat untuk mengantarkan keponakanku yang bernama Dibah. Aku mengantarnya menggunakan sepeda. Meskipun dibah terbiasa membawa sepedanya sendiri tetapi pagi ini aku ingin sekali mengantarnya agar aku dapat melihat-lihat Gang Adam di pagi hari. Memang sangat sepi pagi ini yah waktu memang masih pukul 06.00. terdengar suara ayam beberapa kali kukuruyuk dari samping kandang belakang rumah nenek ku. “Ayo Dibah kamu sudah siap kita berangkat sekarang” aku berkata. Sepanjang jalan aku berbincang-bicang dengan Dibah kamu masuk jam berapa? Lalu Dibah berkata “jam setengah tujuh aa”, masih lama kan kita pelan-pelan saja yah goes sepeda nya”. Sepanjang jalan masih terasa nyaman tenang dan asri terlihat kanan kiri pepohonan dan taman-taman halaman rumah yang indah-indah, di gang adam ini sebagian besar halaman rumah-rumahnya di tanami dengan pepohonan yang diberi pot-pot untuk alasnya dari yang kecil sampai pot yang besar-besar memang Rawa Belong terkenal dengan tanaman hiasnya dan pasar bunga Rawa Belong. Mungkin dengan itulah rumah-rumah di sekitar sini sangat asri dan nyaman. Setelah sampai di sekolah Dibah dan Dibah pun langsung berbelok untuk masuk melalui gerbang utama sekolahnya, dan aku pun berhenti di depan gerbang untuk melambaikan tangan kearah Dibah. Terlihat matahari dari balik gedung bertingkat sekolahan Dibah mulai terbit dengan sepenuhnya yang sebelumnya malu-malu untuk keluar. Udara pun terasa panas tetapi tetap segar, hawa pagi begitu terasa di sini. Jalanan yang masih sepi hanya beberapa terlihat hiruk-pikuk para orang tua mengantarkan anak-anaknya untuk ke sekolah. Setelah melihat Dibah masuk ke kelasnya aku pun bergegas untuk pulang tak lama terdengar oleh ku alarm sekolah yang menandakan jam masuk, ternyata sudah jam enam tiga puluh.

Sore hari nya aku dan sepupuku berencana untuk jalan-jalan menggunakan sepeda, tepat pukul empat  kami berangkat dari rumah nenek, yah memang seminggu ini saya sedang berada di rumah nenek tepatnya di Rawa Belong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sore ini sangat cerah terlihat banyak anak-anak bermain layang-layang di jalan-jalan, lapangan sudah tidak ada di sekitar rumah nenek ku jadi jalannan lah tempat bermain anak-anak. Setelah keluar gang kecil lalu aku berbelok menuju jalan utama yah nama jalan itu adalah Gang Adam, terlihat jalanan yang kira-kira lebarnya lima meter, telah ramai oleh para pedagang yang kelihatan dari kejauhan mulai sibuk merapikan kios-kios dagangan nya, meskipun kios-kios mereka sistem bongkar pasang yang menggunakan kayu dan beratapkan terpal tetapi para pedagang itu terlihat sangat cekatan untuk menata kios-kios mereka agar terlihat menarik, memang di setiap hari Jumat malam jalanan di Gang Adam berubah menjadi pasar kaget begitu orang di sekitar sini menyebutnya. 

Aku dan sepupu ku mulai mendekati keramaian para pedagang itu, ini adalah jalan utama dan kami tidak ingin memutar karena terlalu jauh, lantas kami menuruni sepeda dan menuntunnya sambil melihat kanan kiri, yang sangat menarik perhatian ku adalah di tengah-tengah gang itu terdapat bangunan besar bertingkat dan ternyata itu adalah sekolahan SDN 05 Kebon Jeruk di mana Dibah bersekolah. Ternyata ini jalan depan sekolahan Dibah, yang tadi pagi aku berhenti untuk mengantar Dibah. Pagi tadi terlihat sepi dan asri dan sekarang jalan sudah berubah menjadi pasar dan terlihat berantakan kayu-kayu dan dagangan para pedagang yang belum di rapihkan, tampaknya jalanan di Gang Adam ini tidak di sia-siakan dan sangat bermanfaat bagi masyarakat di sekitar sini itulah sepilas pikiran ku, dan setelah melewati sekolahan itu tak sengaja ku dengar seorang ibu berteriak memanggil anaknya, “Adi pulang sudah sore, lihat sudah jam lima cepat pulang mandi. Ayo Adi pulang” seperti itu kiranya ibu itu berteriak-teriak. Aku pun kaget dan terkejut mendengar perkataan ibu itu ternyata sudah semakin sore, pantas saja matahari mulai redup pencahayaannya. Aku pun mengajak sepupuku untuk segera pulang ke rumah nenek. Sesampainya di ujung gang para pedagang berjualan, ada sesuatu yang menarik perhatiaan ku pedagang lampu hias yang menyalakan lampu-lampu dagangannya, meskipun langit belum gelap, kios pedagang lampu itu sangat enak di pandang. Aku pun jadi penasaran untuk kembali lagi ke sini nanti malam. setelah melewati pasar kaget itu , aku dan sepupuku mulai menaiki sepeda lagi, menuju pulang ke rumah nenek.

Malam pun tiba dan aku bersama sepupuku beserta keponakan ku yang berumur tujuh tahun mulai keluar dari rumah nenek dengan berkendara sepeda. Memang letak pasar kaget cukup jauh dari rumah nenek ku karena di tengah jalan utama Gang Adam. Jalanan yang tadi sore terlihat anak-anak bermain layang-layang kini menjadi jalanan yang ramai oleh pejalan kaki dan pengendara sepeda motor tampaknya mereka semua ingin pergi ke pasar kaget itu. Aku beserta saudara ku tidak kalah semangatnya untuk segera pergi ke sana dengan sepeda kami, sesampainya di pasar kaget terdengar suara azan isya, dan kami pun bergegas menuju mesjid terlebih dahulu untuk menunaikan salat isya berjamaah. Yah memang sepanjang Gang Adam ini terdapat beberapa mesjid-mesjid besar, salah satunya di depan pasar kaget ini, selesai salat kami bergegas menuju pasar kaget, baru beberapa langkah keluar dari mesjid mata ku tertuju ke menara mesjid yang mempunyai jam dinding besar yang menunjukan waktu 19:25. Keponakan ku yang bernama Dibah sangat senang sekali melihat keramaian di sini, setelah masuk kedalam kerimunan pasar kaget ini Dibah menunjukan tangannya ke arah bangunan sekolah "aa lihat itu sekolahan Dibah". Aku pun tersenyum dan meledekinya "yahh jalanan depan sekolahan Dibah jadi pasar sekarang, heheheh" kami pun tertawa di dalam keramaian pasar kaget ini, sepupu ku yang bernama Kiki yang tadi sore aku jalan-jalan dengan sepeda bersamanya juga tampak senang berada di keramaian pasar kaget ini, lalu Kiki melihat-lihat kios pakaian aku pun menemani dia membeli pakaian. Memang harga-harga di sini sangat murah dan bisa di tawar. Di sebelah kios baju ada kios boneka yang cukup lengkap, si Dibah pun langsung menarik tangan ku, "aa aku mau beli yang itu" boneka beruang berwarna coklat dia menunjuknya.

Setelah semuanya mendapatkan barang-barang yang diinginkan, aku pun tertarik melihat-lihat kios jam tangan, dan ternyata ada jam besar tergantung di tengah nya yang menunjukan pukul 20:45. Aku pun terkejut dan berbisik sudah hampir jam Sembilan, apa kalian berdua ingin pulang. Mereka bersahutan “yah sudah ayo kita pulang”. Dibah berkata “aa bagaimana dengan aa tidak ada yang ingin di beli” aku pun menggelengkan kepala tidak ada, yang penting aa bisa buat kalian semua senang. Yasudah ayo kita berbalik arah dan pulang, meskipun kami tidak sampai ke ujung Gang Adam ini untuk melihat-lihat kios yang unik-unik, yang penting kami bertiga senang bisa ke pasar kaget di malam yang cerah ini. Malam ini memang terlihat banyak bintang, dan bulan pun sangat cerah menambah ke indahan pasar kaget Gang Adam ini. Setelah sampai di depan mesjid kami pun bergegas mangambil sepeda, yah sepeda memang kami parkir di lapangan parkir mesjid karena tempat itu yang di saran kan nenek untuk menaruh sepeda kami. Kami pun bertiga bergegas untuk pulang dengan goesan sepeda yang pelan-pelan, berbeda sekali dengan berangkat nya yang sangat semangat. Kami semua memang tampak kelelahan di tambah bawaan belanja boneka Dibah yang aku pegang di tangan kiri, sedangkan Kiki membawa belanjaannya sendiri, hanya Dibah lah yang masih semangat “ayo aa cepetan goes sepedanya” Dibah berteriak-teriak. Dengan semangat gadis cilik itulah kami pulang dengan canda senyuman bahagia di malam  sabtu yang indah ini.

Tengah Malam di Warnet Angkasa



Deskripsi dengan pengembangan observasi menurut waktu dan spasi


Tengah Malam di Warnet Angkasa


   Tengah malam aku meninggalkan rumah untuk pergi ke warnet angkasa sepanjang aku berjalan masih terlihat warung yang masih buka dan beberapa gerobak nasi goreng yang masih siap menanti para pembeli, sehingga aku memberanikan diri untuk pergi ke warnet (warung internet) yang melayani para pencinta sosial media, game online, dan dunia maya meski mata tak semangat di siang hari tetapi para pelanggan tetap nyaman dan damai di tempat duduknya masing-masing dengan mata terfokus ke layar komputer meskipun sesekali terlihat lalu lalang untuk sekedar ke toilet atau telah usai bermain dan bergegas pulang. Hanya terdengar suara alunan musik kelasik dan percakapan beberapa anak muda di teras depan warnet angkasa ini, walaupun tengah malam warnet ini tetap di penuhi para pencinta hiburan dunia maya.

   Udara yang menusuk tulang malam hari ini memang tidak begitu terasa di dalam ruangan berbeda sekali pada saat aku keluar dari rumah menuju warnet angkasa ini. Aku pun duduk di bagian pinggir kanan tepat samping pintu masuk utama, yang terlihat selain monitor, keyboard dan mouse, terlihat  juga di atas dinding AC yang diam tak menyala seolah sedang beristirahat, dan di sampingnya terdapat jam dinding berwarna hitam dengan angka-angka putih menunjukan tepat pukul 23:45, udara pun semakin lama semakin mulai terasa masuk ke ruangan terlihat dari ayunan gorden berwarna biru yang melambai-lambai tepat di balakang aku duduk. 

   Entah apa yang harus aku lakukan dan harus memulai dari mana untuk memainkan komputer ini yang terpikirkan hanyalah tugas penulisan populer yang belum aku kerjakan. Sesekali aku menengok kanan dan kiri dan merasakan suasana mulai terasa sepi dan lebih tenang karena hanya beberapa saja yang terlihat masih memainkan komputer nya, sebagian sudah pulang dan mungkin akan tidur karena waktu sudah semakin larut. Aku pun masih tetap bertahan meskipun beberapa kali mata mulai kelelahan, sesekali aku melihat jam di layar komputer dan terkejut waktu sudah menunjukan pukul 1:55, lalu aku pun langsung menengok ke atas dan melihat jam dinding yang semenjak tadi memperhatikanku, ternyata benar waktu sudah pagi dan menunjukan pukul 2:00, hanya berbeda lima menit dari waktu yang terdapat di komputer. 

   Akupun masih semangat untuk memainkan komputer, hingga tak terasa angin mengganggu ku masuk dari belakang membuat tubuh ku kedinginan. Aku pun berbalik dan menutup jendela rapat-rapat. Suara pun menjadi lebih tenang dan sunyi berbeda sekali dengan waktu aku pertama kali masuk ke warnet angkasa ini, alunan musik telah dimatikan menandakan waktu sudah larut dan ke bisinganpun mulai dialihkan dengan ke sunyian. Anak-anak muda pun yang tadi berbincang di teras depan sudah tidak ada hanya terlihat puntung rokok dan kulit kacang yang berserakan,  Aku merasa seperti sendirian karena sudah tidak terdengar lagi adanya kehidupan, lalu aku mulai merasa gelisa dan melihat jam kembali ternyata jarum pendek jam dinding menunjukan setengah tiga, tampaknya ini waktu yang tepat untuk mensudahi kumputer yang aku mainkan ini. Lalu aku bergegas untuk ke kasir dan membayar.


   Dan ternyata suasana pun sepi seperti perumahan yang tidak berpenghuni sudah tidak terlihat lagi adanya kehidupan, berbeda sekali seperti tadi aku berangkat masih terlihat warung yang buka, dan beberapa tukang nasi goreng yang mangkal. Aku berjalan dan jalanku mulai aku percepat walaupun sesekali aku jumpai binatang malam yaitu tikus hitam yang berlalu lalang di jalanan mungkin mereka seperti menyambut ku dan berkata selamat beristirahat.

Rabu, 10 April 2013


Tempat parkir (pohon ceri)


Suasana sejuk pagi hari dengan langit yang sedikit mendung tepatnya pukul 7:20 WIB, aku tiba di depan kampus Universitas Pamulang, setelah melewati gerbang bertulisan UNPAM yang dijaga beberapa secutity yang sedang duduk sambil berbincang dan ada dua orang yang berdiri mengatur laju masuknya para mahasiswa. Pertama yang aku pikirkan setelah melewati gerbang adalah dimana tempat parkir yang akan aku pakai untuk motor berwarna merahku ini. Pikiranku langsung tertujuh area terbuka sisi kanan UNPAM, gedung Auditorium UNPAM yang aku lihat pertama lalu aku belokan motorku ke arah sebelah kanan tepatnya di depan gedung Pascasarjana area tempat parkir terbuka itu berada.
Karena waktu masih terlalu pagi aku mendapatkan tempat di barisan pertama tepat di bawah pohon ceri yang kira-kira setinggi 3 meter tetapi pohonnya sangat rindang sehingga membuat aku merasa nyaman menepatkan motorku di bawahnya, lalu aku mencari tanah yang kering dan aku mendapatkan tempat di samping pohon ceri pertama diantara empat barisan pohon ceri. Pagi itu tanahnya memang basah karena aku tahu semalam habis hujan oleh karena itu aku menginjak-ngijak tanah yang pas untuk disandarkannya kaki motorku ini, dan aku rasa posisi motorku sudah terpakir dengan baik.
Lalu aku bukalah helem hitamku ini, pertama yang aku lihat setelah membuka helem adalah seorang security UNPAM dengan wajah ramah berambut tipis dan berkumis tebal. Security itu manyapaku dengan senyuman seolah mengucapkan salam “selamat pagi” kepada ku, akupun menyambutnya dengan ucapan “pagi pak”, dengan sebatang rokok ditangan diapun melanjutkan tradisinya duduk santai menikmati tembakau. Lalu  akupun menengok ke atas melihat beberapa buah ceri yang bulat berwarna merah merona, menggoda seolah mereka berbicara petik aku, makan aku, nikmati aku, akupun terpaku dan beberapakali mencari-cari letak buah yang sudah matang itu meskipun aku tidak berani untuk memetiknya. Kemudian aku menengok ke pohon baris kedua di sebelah kiri tepatnya di bawah tempat duduk security UNPAM yang sedang menikmati rokok idolanya. Terdengar suara burung berkicau, meskipun suranya tidak terdengar merdu karena dipadukan dengan suara-suara motor yang mulai memadati area tempat parkir ini, meski begitu aku tetap terfokus mencari sumber bunyi kicauan burung yang sangat kecil itu. Rupanya ada beberapa ekor burung pipit yang sedang berebut mencari buah ceri yang matang aku terus memperhatikan gerak gerik burung itu hingga suaranyapun menghilang satu persatu terbang entah kemana kerena penglihatanku tidak dapat mencapainya lagi.
Aku pun beranjak dan mulai melangkah, baru saja satu langkah aku meninggalkan motorku, kulihat seorang wanita berjaket hitam dengan warna merah dilengan mengendarai motor matic tepat di baris kedua di belakang motorku dia memarkirkan motornya, dengan tergesa-gesa wanita itu menaru motornya, akupun terpaku melihatnya dan bertanya-tanya ada apa dengannya, lalu akupun melihat jam yang berada disebelah kiri tangan ku yang menunjukan pukul 7:30 WIB lantas aku berfikir dia mungkin tidak ingin terlambat, lalu akupun berbalik memposisikan pandanganku ke depan dan mulai berjalan meninggalkan area parkir dan sesekali menengok keatas pepohonan ceri.